Niatnya Cuma 5 Menit, Kok Tiba-Tiba Sudah 2 Jam? Ini Doom Scrolling!

Facebook
WhatsApp
Email

Niatnya Cuma 5 Menit, Kok Tiba-Tiba Sudah 2 Jam?

Pernah mengalami ini?

Awalnya cuma mau membuka HP sebentar. Katanya, “Cuma lima menit, habis itu belajar.”

Lalu buka Instagram. Scroll satu video. Lanjut video berikutnya. Pindah ke TikTok. Lihat komentar. Buka berita. Scroll lagi.

Tiba-tiba kamu melihat jam dan…

“Lah, kok sudah dua jam?!” 😭

Kalau pernah, kamu tidak sendirian. Kebiasaan terus-menerus mengonsumsi konten di media sosial, terutama konten yang membuat kita merasa cemas, marah, takut, atau penasaran, sering disebut sebagai doom scrolling.

Doom scrolling bukan sekadar menghabiskan waktu di media sosial. Ada pola tertentu yang membuat kita terus mencari dan mengonsumsi informasi meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.

Apa Itu Doom Scrolling?

Secara sederhana, doom scrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial atau berita secara berlebihan untuk mencari informasi, terutama informasi negatif atau mengkhawatirkan.

Misalnya, kamu melihat satu berita buruk. Karena penasaran, kamu mencari informasi lainnya. Setelah menemukan informasi baru, muncul pertanyaan lain. Kamu pun terus scrolling untuk mencari tahu lebih banyak.

Masalahnya, internet hampir tidak pernah kehabisan informasi.

Satu konten selesai, ada konten lain. Satu berita selesai, muncul berita berikutnya.

Akibatnya, aktivitas yang awalnya hanya ingin dilakukan beberapa menit bisa berubah menjadi satu atau bahkan beberapa jam.

Kenapa Kita Susah Berhenti Scroll?

Salah satu alasannya adalah media sosial memang dirancang untuk membuat kita terus menemukan konten baru.

Setiap kali kita melakukan scroll, ada kemungkinan kita menemukan sesuatu yang menarik: video lucu, berita terbaru, informasi mengejutkan, atau konten yang sesuai dengan minat kita.

Rasa penasaran membuat kita berpikir:

“Satu lagi deh.”

Dan setelah satu…

“Yang ini terakhir.”

Kemudian satu lagi.

Dan satu lagi.

Sampai akhirnya baterai HP tinggal 12%.

Baru sadar hidup sudah bergeser dari “sebentar” menjadi “kok sudah malam?” 😅

Doom Scrolling Bisa Mengganggu Fokus Belajar

Bagi mahasiswa, kebiasaan ini bisa menjadi masalah ketika dilakukan di sela-sela aktivitas akademik.

Misalnya, kamu sedang mengerjakan tugas dan merasa sedikit bosan. Kamu mengambil HP dengan niat mencari hiburan selama lima menit.

Namun, lima menit berubah menjadi 30 menit.

Ketika kembali mengerjakan tugas, fokus sudah hilang. Kamu membutuhkan waktu lagi untuk mengingat apa yang sedang dikerjakan.

Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya bisa selesai dalam satu jam justru membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Doom Scrolling Tidak Selalu Berarti Kamu Malas

Ini penting untuk dipahami. Orang yang sering doom scrolling belum tentu malas atau tidak punya motivasi. Terkadang, scrolling menjadi cara seseorang melarikan diri sejenak dari rasa bosan, stres, lelah, atau tekanan.

Ketika tugas kuliah terasa berat, membuka media sosial terasa jauh lebih mudah. Tidak membutuhkan banyak usaha dan langsung memberikan berbagai macam stimulasi. Masalahnya, kalau dilakukan terlalu sering, scrolling yang awalnya dimaksudkan sebagai “istirahat” justru bisa membuat waktu semakin berkurang dan pekerjaan semakin menumpuk.

5 Tanda Kamu Mungkin Sudah Terjebak Doom Scrolling

Tidak semua penggunaan media sosial berarti doom scrolling. Namun, beberapa kebiasaan berikut bisa menjadi tanda bahwa kamu perlu mulai mengatur kembali waktu penggunaan media sosial.

1. Sering kehilangan kesadaran waktu

Kamu membuka HP tanpa tujuan yang jelas dan baru sadar sudah menghabiskan waktu yang cukup lama.

2. Sulit berhenti meskipun sudah lelah

Mata sudah lelah, tetapi jari masih terus scrolling.

3. Membuka HP setiap kali merasa bosan

Sedikit bosan → buka HP.

Menunggu makanan → buka HP.

Menunggu dosen → buka HP.

Selesai belajar → buka HP.

Bahkan mungkin sedang mencari HP padahal HP-nya sedang di tangan. 😭

4. Sulit kembali fokus setelah scrolling

Setelah bermain media sosial, kamu merasa sulit kembali mengerjakan tugas atau belajar.

5. Sering menyesal setelahnya

Kamu berkata:

“Harusnya tadi aku belajar.”

Tapi besoknya melakukan hal yang sama lagi.

Bagaimana Cara Mengurangi Doom Scrolling?

Kabar baiknya, kamu tidak harus langsung menghapus semua media sosial. Tujuannya bukan menjadi orang yang tidak pernah menggunakan HP. Kita hidup di era digital, dan media sosial juga memiliki banyak manfaat. Yang penting adalah menggunakan teknologi dengan lebih sadar.

1. Tentukan Batas Waktu

Cobalah menggunakan fitur screen time atau digital wellbeing di smartphone untuk mengetahui berapa lama kamu menggunakan media sosial. Setelah mengetahui angkanya, kamu bisa mulai membuat target yang realistis. Tidak perlu langsung dari tiga jam menjadi 15 menit. Turunkan secara bertahap.

2. Jangan Membuka Media Sosial Saat Sedang Belajar

Kalau sedang belajar, jauhkan HP dari jangkauan tangan. Karena masalahnya sering bukan pada niat. Kita bisa berkata:

“Aku cuma mau cek satu notifikasi.”

Dan algoritma media sosial mungkin menjawab:

“Oh, kamu mau lihat satu? Nih, saya kasih 47 konten.” 😭

3. Ganti dengan Aktivitas Istirahat yang Benar-benar Istirahat

Ketika merasa lelah belajar, tidak harus selalu membuka media sosial.

Cobalah:

  • berjalan sebentar,
  • minum air,
  • membuat kopi atau teh,
  • stretching,
  • berbicara dengan teman,
  • atau sekadar duduk tanpa melihat layar.

Istirahat tidak selalu berarti memberikan otak lebih banyak informasi. Kadang-kadang, otak justru membutuhkan lebih sedikit stimulasi.

4. Matikan Notifikasi yang Tidak Penting

Notifikasi merupakan salah satu pemicu kita mengambil HP tanpa sadar. Coba matikan notifikasi dari aplikasi yang tidak benar-benar membutuhkan perhatian segera. Dengan begitu, kamu tidak terus-menerus merasa harus mengecek HP setiap beberapa menit.

5. Buat “Zona Tanpa HP”

Kamu bisa menentukan waktu tertentu sebagai screen-free time, misalnya saat makan, belajar, atau satu jam sebelum tidur. Awalnya mungkin terasa aneh. Tangan seperti otomatis mencari HP. Tapi lama-lama, otak akan terbiasa bahwa tidak setiap detik harus diisi dengan scrolling.

Bukan Berarti Harus Anti-Media Sosial

Media sosial bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai musuh. Kita bisa mendapatkan informasi, belajar hal baru, membangun networking, menemukan peluang karier, bahkan mengembangkan personal branding melalui media sosial.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakannya. Apakah kita yang mengendalikan penggunaan media sosial? Atau justru algoritma yang menentukan ke mana perhatian kita pergi? Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi awal untuk menggunakan teknologi dengan lebih sadar.

Belajar Fokus di Tengah Dunia yang Tidak Pernah Berhenti

Di era digital, kemampuan untuk fokus menjadi semakin berharga.

Informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Tantangannya bukan lagi sekadar mencari informasi, tetapi memilih informasi mana yang benar-benar penting dan kapan kita perlu berhenti mengonsumsinya.

Bagi mahasiswa, kemampuan mengelola perhatian dapat membantu proses belajar menjadi lebih efektif.

Karena pada akhirnya, bukan hanya waktu yang perlu kita kelola.

Perhatian juga perlu dikelola.


🌱 CBN Education: Belajar di Era Digital

Teknologi terus mengubah cara kita belajar dan bekerja. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara produktif sekaligus memahami kapan harus mengambil jeda dari dunia digital.

CBN Education percaya bahwa pendidikan modern bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan yang relevan dengan kehidupan dan dunia kerja.

Mulai dari kemampuan digital, berpikir kritis, komunikasi, hingga kemampuan beradaptasi semuanya menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.

Jadi, setelah membaca artikel ini, kalau kamu tiba-tiba ingin membuka TikTok…

Ingat dulu: niatnya cuma lima menit. 😄

Mungkin kali ini, lima menit benar-benar cukup.

Scroll to Top